( MINTA KRITIK SARAN YANG MEMBANGUN)
NOSTALGIA PENUH
WARNA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
Masa–masa
di Sekolah Menengah Atas adalah masa
yang paling indah dilalui, dimana kenakalan remaja menjadi sorotan bagi para
pendidik. dahulu sewaktu masih sekolah di Sekolah Menengah Atas St.
Clemens Boawae saya dikenal oleh guru-guru sebagai anak yang bandel, suka
bolos, dan malas mengikuti pelajaran, terutama pelajaran matematika. Guru
matematika saya dahulu adalah sosok wanita yang cukup kejam namanya ibu
Bernadeta beliau memang suka mengeluarkan kata-kata makian yang cukup pedas
kalau di dengar. Karena kepedasan kata-katanya membuat saya jadi malas
mengikuti pelajarannya. Sikap saya sering mendapat tanggapan serius dari ibu
guru matematika ini. Pada hari senin
pukul 07.00 pagi saat itu adalah jam pelajaran matematika, kurang 5 menit pukul
07.00 ibu Bernadeta memasuki kelas saya.
Saya dan
teman-teman memberi salam “ selamat pagi
ibu...... “
jawab ibu
Bernadeta dengan sedikit senyuman “selamat
pagi juga anak-anak...apa kabar?
Dan kami semua menjawab “ baik-baik saja ibu?
Ibu secara
spontan langsung bertanya kepada kami semua katanya” apakah kalian semua sudah mengerjakan tugas logaritma yang diberikan
saya minggu lalu ?
Saya menjadi bingung lalu bertanya kepada teman
sebangku saya Fery namanya kata saya “teman
apakah ada tugas matematika tentang logaritma minggu lalu seperti ini?
Dengan polos
Fery menjawab “ iya teman apa
ada..masalah ? minggu lalu itu ibu guru memberikan tugas matematika tentang
logaritma, teman bolos jadi teman tidak tahu apa-apa..”
Sementara berdiskusi tiba-tiba ibu melintasi tempat
duduk saya dan teman saya Fery, perasaan saya memang sangat tidak tenang,
karena takut kalau disaat yang sama ibu
bertanya ternyata saya tidak mengerjakan. Dan ternyata perasaan saya itu menjadi sebuah kenyataan,
ibu Bernadeta menghampiri tempat duduk saya dan bertanya kepada saya katanya “
Iuss dimana pekerjaan rumahmu?
Saya menjadi
sangat gugup dan takut sambil menggaruk-garuk kepala dan berkata dengan nada
seperti ketakutan “ tenang saja ibu saya
punya pekerjaan rumah sudah selesai, tetapi.......saya lupa di rumah” jawab
ibu “ mengapa Iuss lupa? Belum tua sudah
pikun..sekarang ibu sarankan supaya iuss pulang dan ambilkan pekerjaan itu..” jawab saya dengan ragu-ragu “ baiklah ibu”
setelah itu ibu memperbolehkan saya untuk pulang
mengambilkan pekerjaan rumah itu. Dalam perjalan pulang saya berpikir kembali
kalau saya sudah menipu ibu. Luar biasa juga tipuan saya bisa meyakinkan
ibu. Setelah 20 meter dari sekolah, saya bertemu dengan dua orang teman kelas lain saya yang bolos nama mereka
adalah Abe dan Arif. Abe dan Arif langsung menghampiri saya dan bertanya” teman mengapa kamu pulang?
Kemudian saya
dengan santai menjawab “ saya dipulangkan
karena saya tidak mengerjakan pekerjaan rumah “ jawab mereka “ owwww saran kami sebaiknya teman tidak
usah ambil pekerjaan rumah kita bolos saja”( sambil tertawa terbahak-bahak.)
Saya menjadi bingung dan berkata kepada mereka “ pekerjaan rumah saya memang tidak
dikerjakan, saya dari tadi hanya menipu
ibu saja”
jawab Arif “ wah itu sangat bagus”yang lebih bagusnya
lagi kalau kita pergi ke rumah saya, disana kita minum kopi sambil nonton
televisi “
Akhirnya saya dan teman saya berangkat kerumahnya.
Disana kami minum kopi sambil nonton televisi. Saya di ajak Arif untuk tidur di
rumahnya. Keesokan harinya saya ke sekolah dengan seragam yang tidak rapi. Dalam
perjalan mendekati gerbang sekolah, saya melihat Ibu Bernadeta berdiri di depan
gerbang sambil memegang rotan. Hari itulah piket ibu bernadeta ,saya sangat
takut mendekatinya. Sementara merapikan baju seragam dengan tergesa-gesa saya
dipanggil ibu katanya “ babi kesini kamu!
Dasar anak bandel mengapa kamu terlambat?!!! Ingat kemarin kamu sudah menipu
ibu!!! Sebentar menghadap ibu di ruangan guru” kata ibu bernadeta dengan
wajah memerah. “Wah sangat berbahaya”
kata saya dalam hati, pikiran saya seolah-olah terkunci oleh amarah Ibu
Bernadeta. Setelah bell masuk berbunyi saya menuju ke ruangan guru untuk
menghadap beliau. Setelah sampai di ruangannya, saya dimarahi oleh ibu
bernadeta “ inilah dia murid yang paling
bandel” kata ibu dihadapan teman-teman guru yang sedang sibuk dengan
pekerjaan mereka .Saya menjadi malu mendengarnya, semua teman-teman guru yang
ada didalam ruangan menjadi marah terhadap saya. Akhirnya beliau bertanya
kepada saya katanya “ mengapa kemarin
kamu tidak kembali ke sekolah dan mengikuti pelajaran saya!!! Jelaskan anak
kurang ajar” ( sambil menunjukan jari telunjuknya di dahi saya ) lalu saya
menjelaskan kepada ibu bahwa saya tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan kalau
hari kemarin itu hanya tipuan saja supaya saya tidak mendapat hukuman. Setengah jam berlalu, Setelah saya mendapat
pengarahan dan nasihat dari beliau saya kembali ke kelas saya bersama dengan
ibu dan mengikuti pelajaran matematika.Ketika saya dan ibu Bernadeta memasuki
ruangan kelas semua mata teman-teman saya tertuju pada saya dengan wajah
keheranan. Kemudian saya menuju tempat
duduk saya dan kembali duduk Akhirnya teman sebangku saya bertanya katanya “ teman,.. kamu dari mana ? kok kamu masuk
bersamaan dengan ibu Bernadeta “
“saya dari ruangan guru menghadap ibu Bernadeta “ kata saya dengan sedikit malu. Teman saya kemudian
berkata kepada saya lagi katanya “ oh
pasti kamu membahas masalah kemarin ya? “
Jawab saya “
ya benar sekali teman... saya kemarin disuruh
pulang oleh ibu guru untuk mengambil kembali pekerjaan rumah, tetapi saya tidak kembali lagi
ke sekolah dan mengikuti pelajaran itu masalahnya”
“ lalu kemana saja kamu kemarin setelah
pulang dari sekolah?” katannya
sekali lagi. Jawab saya “ ssssstt saya Bolos “ akhirnya siulan saya itu
terdengar sampai ke telinga ibu Bernadeta.
Ibu Bernadeta
tiba-tiba terkejut dan menatap saya dengan penuh amarah katanya “ hey telor..... bunyi siulan apa yang kamu
buat?” kamu tidak pernah bertobat ya!!!
Kamu benar-benar anak bandel” saya hanya terdiam santai tapi sedikit takut.
Kemudian ibu datang menghampiri saya dan berkata “ dengan cara apa yang harus saya lakukan untuk sikap kamu ini?baiklah
saya akan membawa kamu ke hadapan Kepala Urusan Kesiswaan supaya kamu di bina
disana.”diruangan Kepala Urusan Kesiswaan saya dibina, dinasihati dan di putuskan
untuk membuat surat pernyataan kepada ibu Bernadeta. Saat itulah saya mulai
sedikit mematuhi dan mentaati aturan didalam kelas maupun diluar kelas.

