Selasa, 24 November 2015

Saran dan kritik yang membangun untuk tulisan ini



NOSTALGIA PENUH WARNA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
 Masa–masa di Sekolah Menengah Atas  adalah masa yang paling indah dilalui, dimana kenakalan remaja menjadi sorotan bagi para pendidik.  dahulu sewaktu  masih sekolah di Sekolah Menengah Atas St. Clemens Boawae saya dikenal oleh guru-guru sebagai anak yang bandel, suka bolos, dan malas mengikuti pelajaran, terutama pelajaran matematika. Guru matematika saya dahulu adalah sosok wanita yang cukup kejam namanya ibu Bernadeta beliau memang suka mengeluarkan kata-kata makian yang cukup pedas kalau di dengar. Karena kepedasan kata-katanya membuat saya jadi malas mengikuti pelajarannya. Sikap saya sering mendapat tanggapan serius dari ibu guru matematika ini.  Pada hari senin pukul 07.00 pagi saat itu adalah jam pelajaran matematika, kurang 5 menit pukul 07.00  ibu Bernadeta memasuki kelas saya.
Saya  dan teman-teman memberi salam “ selamat pagi ibu......
 jawab ibu Bernadeta dengan sedikit senyuman “selamat pagi juga anak-anak...apa kabar?
Dan kami semua menjawab “ baik-baik saja ibu?
 Ibu secara spontan langsung bertanya kepada kami semua katanya” apakah kalian semua sudah mengerjakan tugas logaritma yang diberikan saya minggu lalu ?
Saya menjadi bingung lalu bertanya kepada teman sebangku saya Fery namanya kata saya “teman apakah ada tugas matematika tentang logaritma minggu lalu seperti ini?
 Dengan polos Fery menjawab “ iya teman apa ada..masalah ? minggu lalu itu ibu guru memberikan tugas matematika tentang logaritma, teman bolos jadi teman tidak tahu apa-apa..”
Sementara  berdiskusi tiba-tiba ibu melintasi tempat duduk saya dan teman saya Fery, perasaan saya memang sangat tidak tenang, karena takut kalau disaat yang sama  ibu bertanya ternyata saya tidak mengerjakan. Dan ternyata  perasaan saya itu menjadi sebuah  kenyataan,  ibu Bernadeta menghampiri tempat duduk saya dan bertanya kepada saya  katanya “ Iuss dimana pekerjaan rumahmu?
 Saya menjadi sangat gugup dan takut sambil menggaruk-garuk kepala dan berkata dengan nada seperti ketakutan “ tenang saja ibu saya punya pekerjaan rumah sudah selesai, tetapi.......saya lupa di rumah” jawab ibu “ mengapa Iuss lupa? Belum tua sudah pikun..sekarang ibu sarankan supaya iuss pulang dan ambilkan pekerjaan itu..”  jawab saya dengan ragu-ragu “ baiklah ibu”
setelah itu ibu memperbolehkan saya untuk pulang mengambilkan pekerjaan rumah itu. Dalam perjalan pulang saya berpikir  kembali  kalau saya sudah menipu ibu. Luar biasa juga tipuan saya bisa meyakinkan ibu. Setelah 20 meter dari sekolah, saya bertemu dengan dua orang  teman kelas lain saya yang bolos nama mereka adalah Abe dan Arif. Abe dan Arif langsung menghampiri saya dan bertanya” teman mengapa kamu pulang?
 Kemudian saya dengan santai menjawab “ saya dipulangkan karena saya tidak mengerjakan pekerjaan rumah “ jawab mereka “ owwww saran kami sebaiknya teman tidak usah ambil pekerjaan rumah kita bolos saja”( sambil tertawa terbahak-bahak.)
Saya menjadi bingung dan berkata kepada mereka “ pekerjaan rumah saya memang tidak dikerjakan,  saya dari tadi hanya menipu ibu saja”
 jawab Arif “ wah itu sangat bagus”yang lebih bagusnya lagi kalau kita pergi ke rumah saya, disana kita minum kopi sambil nonton televisi “
Akhirnya saya dan teman saya berangkat kerumahnya. Disana kami minum kopi sambil nonton televisi. Saya di ajak Arif untuk tidur di rumahnya. Keesokan harinya saya ke sekolah dengan seragam yang tidak rapi. Dalam perjalan mendekati gerbang sekolah, saya melihat Ibu Bernadeta berdiri di depan gerbang sambil memegang rotan. Hari itulah piket ibu bernadeta ,saya sangat takut mendekatinya. Sementara merapikan  baju seragam dengan tergesa-gesa saya dipanggil ibu katanya “ babi kesini kamu! Dasar anak bandel mengapa kamu terlambat?!!! Ingat kemarin kamu sudah menipu ibu!!! Sebentar menghadap ibu di ruangan guru” kata ibu bernadeta dengan wajah memerah. “Wah sangat berbahaya” kata saya dalam hati, pikiran saya seolah-olah terkunci oleh amarah Ibu Bernadeta. Setelah bell masuk berbunyi saya menuju ke ruangan guru untuk menghadap beliau. Setelah sampai di ruangannya, saya dimarahi oleh ibu bernadeta “ inilah dia murid yang paling bandel” kata ibu dihadapan teman-teman guru yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka .Saya menjadi malu mendengarnya, semua teman-teman guru yang ada didalam ruangan menjadi marah terhadap saya. Akhirnya beliau bertanya kepada saya katanya “ mengapa kemarin kamu tidak kembali ke sekolah dan mengikuti pelajaran saya!!! Jelaskan anak kurang ajar” ( sambil menunjukan jari telunjuknya di dahi saya ) lalu saya menjelaskan kepada ibu bahwa saya tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan kalau hari kemarin itu hanya tipuan saja supaya saya tidak mendapat hukuman.  Setengah jam berlalu, Setelah saya mendapat pengarahan dan nasihat dari beliau saya kembali ke kelas saya bersama dengan ibu dan mengikuti pelajaran matematika.Ketika saya dan ibu Bernadeta memasuki ruangan kelas semua mata teman-teman saya tertuju pada saya dengan wajah keheranan. Kemudian  saya menuju tempat duduk saya dan kembali duduk Akhirnya teman sebangku saya bertanya katanya “ teman,.. kamu dari mana ? kok kamu masuk bersamaan dengan ibu Bernadeta “
  “saya  dari ruangan guru menghadap ibu Bernadeta “ kata saya dengan sedikit malu. Teman saya kemudian berkata kepada saya lagi katanya “ oh pasti kamu membahas masalah kemarin ya? “
Jawab saya “ ya benar sekali teman... saya kemarin disuruh  pulang oleh ibu guru untuk mengambil kembali pekerjaan rumah,  tetapi saya tidak  kembali lagi  ke sekolah dan mengikuti pelajaran itu masalahnya”
 “ lalu kemana saja kamu kemarin setelah pulang dari sekolah?”  katannya sekali lagi. Jawab saya “ ssssstt saya Bolos “ akhirnya siulan saya itu terdengar sampai ke telinga ibu Bernadeta.
 Ibu Bernadeta tiba-tiba terkejut dan menatap saya dengan penuh amarah katanya “ hey telor..... bunyi siulan apa yang kamu buat?”  kamu tidak pernah bertobat ya!!! Kamu benar-benar anak bandel” saya hanya terdiam santai tapi sedikit takut. Kemudian ibu datang menghampiri saya dan berkata “ dengan cara apa yang harus saya lakukan untuk sikap kamu ini?baiklah saya akan membawa kamu ke hadapan Kepala Urusan Kesiswaan supaya kamu di bina disana.”diruangan Kepala Urusan Kesiswaan saya dibina, dinasihati dan di putuskan untuk membuat surat pernyataan kepada ibu Bernadeta. Saat itulah saya mulai sedikit mematuhi dan mentaati aturan didalam kelas maupun diluar kelas.   
              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar